Keraton Yogyakarta, Arsitektur Khas Nusantara yang Sarat dengan Nilai Budaya!

Hai, berjumpa lagi dengan artikel butik rumah selanjutnya!

Setelah cukup lama tim butik rumah berkutat dengan artikel yang membahas arsitektur rumah mewah luar negeri seperti rumah kontemporer a la Nico Van Der Meulen Architect atau rumah minimalis modern a la Houghton MZ dari Afrika dan hotel-hotel unik di seluruh penjuru dunia dengan pemandangan aneh, kali ini saatnya butik rumah ingin membahas mengenai seni arsitektur yang tak kalah menarik dari negeri sendiri lho, yakni Negeri kita tercinta, bangsa Indonesia!

Ada banyak sekali seni arsitektur unik yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara dan semuanya sarat sekali dengan nilai budaya khas tradisional daerahnya masing-masing. Bahkan terkadang tak jarang juga kita temukan arsitektur nusantara yang dipengaruhi dengan budaya luar yang dibawa oleh pendatang atau bahkan penjajah zaman dahulu. Adanya berbagai macam pengaruh membuat seni arsitektur Indonesia mampu menampilkan bentuk yang berbeda dibanding dengan arsitektur di negara lain. Dan kali ini butik rumah ingin membahas mengenai Arsitektur kuno dari daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Keraton Yogyakarta.

Tampak Depan Keraton Yogyakarta 1

Seperti yang telah banyak diketahui oleh masyarakat, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memang masih diakui secara istimewa oleh pemerintah untuk tetap memiliki kesultanan tersendiri yang bertugas memerintah rakyat di daerah Yogyakarta. Mereka yang mempunyai gelar atau sebutan Sultan Hamengku Buwono akan secara otomatis menjadi Kepala Daerah di wilayah ini.

Tampak Depan Keraton Yogyakarta 2

Oleh karena itu tak heran jika keraton Yogyakarta memang masih ditinggali betulan oleh orang-orang keturunan kesultanan sampai saat ini dan tidak hanya dijadikan museum sejarah yang tidak berpenghuni. Di sini juga banyak sekali pegawai raja atau abdi dalem yang juga turut mengisi kesibukan di hunian kerajaan ini. Jadi, walaupun beberapa bagian rumah pribadi kerajaan ini telah dimodifikasi menjadi museum atau tempat wisata, keraton Yogyakarta tetaplah sebuah rumah tinggal berharga milik anggota kerajaan atau kesultanan.

Bentuk Lorong atau Koridor pada Keraton Yogyakarta yang Menghubungkan Bangunan Satu dengan Yang Lain

Pembangunan keraton ini sendiri diusulkan oleh Sultan Hamengku Buwono pertama sekitar tahun 1755. Pada waktu itu, selain menjadi seorang sultan ia juga menjadi arsitek kepala pada proyek pendirian istana ini. Keahliannya dalam bidang arsitektur sudah tidak perlu diragukan lagi. Banyak insinyur dari luar negeri seperti Belanda yang menyatakan kekaguman atas kemampuan Sultan Hamengkubuwono I dalam bidang satu ini. Rancangan bangunan pokok dan tata ruang keraton Yogyakarta berikut desain landscape kota tua Yogyakarta semuanya diselesaikan oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 sampai 1756. Kemudian untuk tambahan bangunan lain pada keraton mulai ditambahkan satu-persatu pada masa jabatan Sultan Yogyakarta yang berikutnya. Sedangkan untuk bentuk keraton yang masih bisa dilihat sampai sekarang merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Ini Dia Alun Alun Lor atau Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta yang sering digunakan sebagai tempat mengadakan acara yang melibatkan Rakyat Banyak

Secara umum, gambaran pola arsitektur yang dimiliki oleh keraton Yogyakarta merupakan bentuk istana Jawa terbaik di Indonesia yang memiliki balairung-balairung mewah, lapangan juga paviliun yang sangat luas. Setiap daun pintunya juga terbuat dari kayu jati yang sangat tebal dan setiap regol atau pintu gerbangnya memiliki ornamen atau hiasan khas Jawa tradisional. Tapi walaupun begitu, di beberapa bagian tertentu masih terlihat sentuhan arsitektur dari budaya luar seperti Portugis, Belanda ataupun Cina.

Di Keraton Yogyakarta banyak Sekali Bangunan Berbentuk Joglo dengan Atap Trapesium

Bangunan di setiap kompleks pasti berbentuk Joglo atau semacamnya. Joglo terbuka tanpa dinding disebut sebagai Bangsal, sedangkan joglo tertutup dengan dinding di sekelilingnya dinamakan Gedhong (gedung). Permukaan atap joglo biasanya berwarna merah atau kelabu dengan bentuk trapesium, dengan bahan atap terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng. Atap tersebut biasanya ditopang oleh tiang utama yang berada di tengah bangunan dan disebut Soko Guru juga tiang lain berwarna kuning, hijau muda, merah atau emas yang biasanya senada dengan warna bagian gedung lain yang juga terbuat dari kayu.

Inilah Bangsal Mewah Gedhong Kaca, Museum Hamengku Buwono IX di Kompleks Keraton Yogyakarta yang Menggunakan Tiang Kayu dengan Sentuhan Ornamen Berwarna Emas yang Cantik

Untuk batu alas tiang atau Ompak, biasanya berwarna hitam dipadu ornamen warna emas. Untuk dinding bangunan biasanya berwarna putih. Lantai sendiri terbuat dari batu pualam putih atau ubin bermotif. Pada bangunan tertentu terdapat tambahan batu persegi atau Selo Gilang tempat menempatkan singgasana Sultan.

Yang jelas, tiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsi dan jabatan pengguna ruangannya. Kelas utama yang biasa digunakan oleh Sultan, biasanya memiliki detail ornamen lebih rumit dan indah dibanding kelas dibawahnya. Bahkan semakin rendah kelas akan makin sedikit ornamen atau bahkan tidak punya ornamen sama sekali. Selain melalui ornamen, kelas bangunan juga bisa dilihat dari bahan dan bentuk bangunan itu sendiri.

Sebagai tambahan, istana kesultanan Yogyakarta ini memiliki tujuh kompleks bangunan yang merupakan inti dari kesultanan, yakni:

Balairung Utara atau Siti Hinggil Ler, biasa digunakan sebagai tempat penyelenggaraan upacara-upacara resmi kerajaan.

Balairung Selatan atau Siti Hinggil Kidul, dulunya biasa digunakan menonton pertunjukan adu manusia dan macan (rampogan) juga tempat berlatih prajurit perempuan, sedangkan sekarang sering digunakan sebagai tempat pertunjukan seperti wayang kulit, pameran dan lain sebagainya.

Kamandhungan Utara atau Kamandhungan Ler, dulu sering dipakai sebagai tempat pengadilan, sedangkan kini digunakan sebagai tempat melaksanakan upacara sekaten dan garebeg.

Kamandhungan Selatan atau Kamandhungan Kidul, dulu pernah digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai markas saat perang tahta III.

Sri Manganti yang sering digunakan untuk menerima tamu-tamu penting kerajaan dan pelaksanaan event pariwisata keraton.

Kedhaton yang merupakan rumah utama atau inti bangunan dari keraton seluruhnya yang digunakan sebagai tempat tinggal dan kantor pribadi keluarga kerajaan, dan terakhir,

Kamagangan yang digunakan sebagai tempat menyeleksi calon pegawai kerajaan atau abdi dalem.

Inilah Pusaka Kereta Kuda Keraton Yogyakarta yang setara dengan mobil dengan plat nopol 1 untuk presiden Indonesia

Tamansari merupakan Kompleks Tambahan Yang  Dulu Sering Digunakan Sebagai tempat Rekreasi Sultan dan Kerabat Kerajaan

Jika Anda masih penasaran untuk menikmati lebih dalam suasana dan wawasan mengenai bangunan Keraton Yogyakarta, Anda bisa datang langsung dan menikmati kemegahan bangunan keraton Yogyakarta yang sarat dengan nilai budaya dan adat jawa yang kental. Dengan cara itu, arsitektur dan pariwisata asli khas Indonesia bisa dilestarikan dan terus dibanggakan sampai penerus generasi yang akan datang.